
Pada kegiatan Rapat Umum Pemegang Saham Tahun Buku 2025 PT Permodalan BMT Ventura Syariah (PBMTVS) yang digelar pada 23 Juni 2026, Awalil Rezky sebagai Chief Economy PBMTVS menyampaikan pandangan ekonominya melalui Economic Sharing kepada para peserta RUPS mengenai outlook ekonomi Indonesia 2026.
Menurut Awalil, ibarat pesawat yang sedang terbang, perekonomian Indonesia selama tahun 2026 sedang mengalami turbulensi. Terjadi guncangan berkali-kali yang dirasakan oleh seluruh penumpang akibat cuaca perjalanan. Suasana dalam pesawat tentu sangat dipengaruhi kondisi pesawat dan juga kemampuan pilot mengendalikan, serta komunikasi awak yang mampu menenangkan.
Turbulensi ini dikarenakan beberapa faktor. Faktor yang paling kentara dan dirasakan banyak negara adalah perang tarif dagang dan serangan Trump ke Iran. Sebelumnya, dinamika keuangan telah ditekan normalisasi fiskal banyak negara maju dan kebijakan bank sentralnya. Berbagai perubahan mendasar pada cara berproduksi dan arus pasok sudah lebih dahulu meningkatkan turbulensi ekonomi.
Faktor tersebut telah memberi dampak yang lebih bersifat negatif pada kinerja perekonomian dunia selama setahun terakhir. Tekanan bersifat langsung terjadi pada nilai tukar, suku bunga, dan kondisi neraca transaksi internasional. Muaranya pada pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia dan banyak negara.
Meski demikian Awalil sangat percaya bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang tahan banting dalam segala kondisi. Masyarakat akan mencari cara bagaimana bertahan hidup.
Hal ini merupakan aset bagi negara, tidak semua bangsa memiliki masyarakat dengan mental bekerja keras seperti Bangsa Indonesia.
Tutupnya, perekonomian Indonesia belum terpuruk dan sebagian sektor masih bisa tumbuh. Optimisme bisa dibangun, karena tersedia banyak pilihan kebijakan otoritas serta tindakan positif semua pihak. Berbagai tantangan yang telah dilalui Indonesia selama beberapa dekade ini juga memperlihatkan penopang ekonomi utama berupa solidaritas sosial yang besar.

